Senin, 21 September 2026
Budaya4 menit baca2026-09-210 pembaca

Menghidupkan Kembali Kidung Kuno di Lereng Merapi: Ritual Jamasan Pusaka yang Bertahan

Di antara semerbak dupa dan asap kemenyan, para sesepuh desa melantunkan tembang macapat yang nyaris terlupakan. Jamasan pusaka bukan kultus mistis, melainkan cara leluhur merawat ingatan ekologis tentang gunung api.

Ahmad Putra

Jurnalis Narasi & Investigasi • BHATARA DALANG

Menghidupkan Kembali Kidung Kuno di Lereng Merapi: Ritual Jamasan Pusaka yang Bertahan
Bagikan:

Udara dingin menusuk tulang di lereng selatan Gunung Merapi ketika malam pergantian bulan Sura tiba. Di sebuah pendapa kayu jati beratap joglo di Desa Kinahrejo, aroma bunga mawar, melati, dan kenanga berbaur dengan kepulan asap dupa cendana.

Seorang pria sepuh dengan surjan lurik dan blangkon khas Yogyakarta memegang sebilah keris lekuk sembilan warisan abad ke-18. Dengan gerak perlahan dan penuh hormat, ia mengusap bilah logam pamor itu menggunakan air perasan jeruk nipis dan minyak kelapa murni.

"Masyarakat kota sering salah kaprah menganggap jamasan ini perbuatan syirik atau pemujaan benda mati," kata Ki Sastro (68), salah seorang sesepuh adat desa. "Keris ini terbuat dari batu meteorit dan besi bumi. Jamasan adalah pengingat bahwa manusia, batu, tanah, dan lahar Merapi berasal dari unsur kosmis yang sama."

Diiringi alunan tembang macapat Dhandhanggula yang dilantunkan para perempuan sepuh desa, ritual ini mengalir dengan kesyahduan yang menghanyutkan. Di balik simbol-simbol pusaka, tersimpan kode-kode kearifan lokal mengenai tanda-tanda alam: kapan Merapi sedang beristirahat, dan kapan saatnya manusia harus mengungsi.

Di tengah gempuran modernitas dan pariwisata lava tour yang kian komersial, tradisi kidung dan jamasan ini menjadi oase penyejuk—sebuah jangkar identitas yang menjaga warga tetap rendah hati di hadapan kekuatan agung Sang Gunung.

Bagikan:
Tentang Penulis

Ahmad Putra

Jurnalis independen yang berfokus pada reportase naratif, isu-isu sosial kemanusiaan, dan kebudayaan. Berkomitmen menghadirkan kisah berimbang dari akar rumput.

redaksi@narasi.com@ahmadputra@ahmadputra

Artikel Terkait Lainnya