Mengurai Benang Kusut Tambang Pasir Besi di Pesisir Selatan: Ketika Nelayan Kehilangan Muara
Deru mesin ponton penyedot pasir tak pernah berhenti sejak fajar. Bagi warga pesisir selatan Jawa, pasir besi bukan sekadar komoditas mineral, melainkan benteng alami terakhir penahan abrasi samudra yang kini kian rapuh.
Ahmad Putra
Jurnalis Narasi & Investigasi • BHATARA DALANG
Deru mesin diesel berkapasitas ribuan tenaga kuda memecah heningnya fajar di muara sungai pesisir selatan Jawa. Pipa-pipa spiral berdiameter setengah meter terentang seperti tentakel raksasa, mengisap jutaan ton pasir hitam dari dasar laguna dan menyemprotkannya ke atas ponton pemisah mineral.
Bagi Sukadi (52), seorang nelayan jaring insang yang telah melaut selama empat dekade, pemandangan ini adalah awal dari petaka panjang. Muara yang dulu menjadi tempat perahu-perahu tradisional bersandar kini mendangkal akibat sedimentasi limbah pencucian pasir.
"Dulu, sekali melaut kami bisa membawa pulang ikan layur dan bawal hingga puluhan kilogram. Sekarang, airnya keruh berlumpur dan karang tempat ikan bertelur tertutup endapan lumpur hitam," tutur Sukadi sembari menatap kapalnya yang kandas di bibir muara.
Investigasi selama dua pekan di kawasan pesisir ini mengungkap pola perizinan tambang yang carut-marut. Meski kawasan ini secara zonasi tata ruang ditetapkan sebagai kawasan lindung sempadan pantai dan mitigasi tsunami, izin eksplorasi tetap dikeluarkan melalui celah regulasi peralihan kewenangan daerah ke pusat.
Benteng gumuk pasir yang selama berabad-abad menahan gempuran gelombang pasang Samudra Hindia kini terpangkas hingga 60 persen. Tanpa intervensi tegas dari pembuat kebijakan, ribuan kepala keluarga di sepanjang pesisir ini berada dalam ancaman ganda: lenyapnya mata pencaharian bahari dan ancaman abrasi pantai yang kian mendekat ke permukiman.
Ahmad Putra
Jurnalis independen yang berfokus pada reportase naratif, isu-isu sosial kemanusiaan, dan kebudayaan. Berkomitmen menghadirkan kisah berimbang dari akar rumput.