Malam Terakhir di Pasar Senen: Melacak Denyut Toko Kaset Pita yang Menolak Menyerah
Di lantai basement yang temaram dan berdebu, desis pita magnetik kaset album lawas masih setia berputar. Di era streaming musik tanpa batas, ada keintiman fisik yang tak mampu digantikan oleh format digital mana pun.
Ahmad Putra
Jurnalis Narasi & Investigasi • BHATARA DALANG
Lampu neon berkedip redup di lorong sempit Blok III Pasar Senen, Jakarta Pusat. Di tengah jajaran kios penjual pakaian bekas dan jam tangan tiruan, sebuah pemutar kaset tape Compo lawas merek Polytron sedang memutar suara serak Chrisye membawakan tembang "Kala Sang Surya Tenggelam".
Bang Zul (61) duduk di bangku plastik pendek, tangannya lincah memutar kembali pita kaset yang kusut menggunakan ujung pensil 2B. Kios berukuran dua kali dua meter miliknya dipenuhi ribuan kaset pita dari berbagai era: mulai dari rock progresif God Bless, pop melankolis Koes Plus, hingga rekaman pidato sejarah kemerdekaan.
"Orang sekarang kalau mau dengar lagu tinggal pencet di ponsel pintar, bisa lompat lagu sesuka hati. Musik jadi kayak makanan cepat saji," ujar Zul sembari tersenyum kecut.
"Tapi kalau dengar kaset, kamu harus menghormati satu album secara utuh dari track satu sampai track enam di side A. Kamu harus menunggu, mendengarkan desis pitanya, dan membaca lirik di sampul kertas lipatnya. Di situlah letak nyawanya."
Kendati pelanggan setianya kian menipis dan harga sewa kios terus merangkak naik, Zul menolak untuk menutup usahanya. Baginya, toko kaset kecil ini bukan sekadar urusan jual beli, melainkan sebuah museum hidup tempat para pecinta seni analog mencari kembali kehangatan yang hilang di era serba dingin dan instan.
Ahmad Putra
Jurnalis independen yang berfokus pada reportase naratif, isu-isu sosial kemanusiaan, dan kebudayaan. Berkomitmen menghadirkan kisah berimbang dari akar rumput.