Menggugat Hiruk-Pikuk Kota: Mengapa Generasi Muda Rindu Kesederhanaan?
Di balik gemerlap kafe artisan dan deru notifikasi ponsel, tersimpan kelelahan kolektif warga urban. Tren slow living bukan lagi sekadar pelarian sesaat, melainkan bentuk perlawanan terhadap glorifikasi jam kerja berlebih.
Siti Rahmawati
Kolumnis • BHATARA DALANG
Jam menunjukkan pukul 21.00 di sebuah stasiun transit Jakarta. Ribuan wajah tampak menatap layar gawai mereka yang menyala dingin di tengah sesaknya gerbong kereta komuter. Tidak ada obrolan hangat, hanya denting notifikasi surel kantor yang masih meminta revisi dokumen.
Fenomena hustle culture yang diagung-agungkan sedekade lalu perlahan mulai kehilangan pesonanya. Generasi muda yang sempat terjebak dalam perlombaan status sosial dan akumulasi materi mulai mempertanyakan esensi dari rutinitas yang mereka jalani.
Kebutuhan akan ketenangan batin, interaksi komunal yang tulus, dan koneksi kembali dengan alam kini bertransformasi menjadi gelombang baru.
Siti Rahmawati
Jurnalis yang berfokus pada reportase naratif, isu-isu sosial kemanusiaan, dan kebudayaan. Berkomitmen menghadirkan kisah berimbang dari akar rumput.