Senin, 21 September 2026
Narasi4 menit baca2026-09-201.241 pembaca

Menjaga Nyala di Ujung Senja: Kisah Terakhir Penjaga Mercusuar Karimunjawa

Di tengah gempuran teknologi GPS dan navigasi satelit otomatis, Pak Martono (58) tetap setia menaiki 180 anak tangga setiap petang. Baginya, cahaya itu bukan sekadar penunjuk arah bagi pelaut, melainkan janji kehidupan yang tak boleh padam.

Ahmad Putra

Jurnalis Narasi & Investigasi • BHATARA DALANG

Menjaga Nyala di Ujung Senja: Kisah Terakhir Penjaga Mercusuar Karimunjawa
Bagikan:

Angin timur berhembus kencang membawa aroma garam dan deru ombak yang memecah karang. Di sebuah tanjung sunyi di ujung kepulauan Karimunjawa, sebuah mercusuar setinggi 35 meter berdiri kokoh menantang langit senja.

Di sanalah Martono, pria berusia 58 tahun dengan kulit legam terbakar matahari, menghabiskan 32 tahun hidupnya. Setiap hari, tepat pukul 17.30 WIB, ia menaiki 180 anak tangga besi yang berderit, membawa lap kain mikrofiber dan memeriksa pelumas pemutar lensa prisma raksasa buatan Prancis tahun 1928.

"Banyak yang bilang, sekarang kapal besar sudah pakai GPS dan radar canggih di ponsel pintar. Buat apa masih ada orang yang nunggu mercusuar?" ujar Martono sembari tersenyum, menyalakan pemantik api untuk rokok kreteknya.

"Tapi bagi nelayan tradisional perahu tempel, ketika badai datang dan baterai ponsel mereka basah atau mati, satu-satunya pemandu mereka untuk pulang ke anak istri adalah kedipan lampu putih ini tiap 12 detik sekali."

Kehidupan di pos jaga mercusuar jauh dari hiruk-pikuk modern. Martono terbiasa dengan kesunyian malam yang hanya dipecahkan oleh suara jangkrik dan deburan ombak.

alur
📸 alur

Namun, zaman terus bergulir. Rencana otomatisasi mercusuar bertenaga surya penuh dengan sistem kendali jarak jauh sudah dicanangkan pemerintah. Tahun depan, masa bakti Martono akan resmi berakhir seiring masa pensiunnya.

Ketika ditanya apa yang akan ia rindukan paling dalam, pandangan matanya menerawang jauh ke garis horizon:

"Saya tidak takut dilupakan pelaut. Saya hanya takut ketika saya sudah tidak ada di sini, laut menjadi terlalu gelap bagi mereka yang tersesat di tengah badai."

Foto Dokumentasi
📸 Foto Dokumentasi
Bagikan:
Tentang Penulis

Ahmad Putra

Jurnalis independen yang berfokus pada reportase naratif, isu-isu sosial kemanusiaan, dan kebudayaan. Berkomitmen menghadirkan kisah berimbang dari akar rumput.

redaksi@narasi.com@ahmadputra@ahmadputra

Artikel Terkait Lainnya